Stereotip "Cantik Harus Putih"


Begini Tanggapan Ahli Terkait Standar Kecantikan di Masyarakat - Parapuan

 "Coba kalau kamu putih, pasti cantik"

Yaa diatas adalah contoh kalimat basa basi yang sering kita dengar. Sudah tidak asing lagi kita mendengar stereotip tentang cantik harus putih. Kebanyakan orang selalu menganggap cantik itu harus putih dan harus mempunyai tubuh yang ideal dan sebagainya. Warna kulit seolah-olah menjadi tolak ukur standar kecantikan. 

Bagaimana Sejarah Munculnya Stereotip "Cantik Harus Putih"

Dalam buku Putih: Warna kulit, Ras, dan Kecantikan di Indonesia Transnasional Karya Saraswati, dijelaskan strereotip ini bermula sejak sebelum zaman kolonial hingga sekarang. Dikutip dari berbagai sumber, kulit putih atau kulit dengan warna lebih cerah menjadi standar kecantikan di Indonesia.

Pada masa penjajahan Belanda, penduduk Hindia Belanda terbagi menjadi tiga golongan: golongan Eropa (yang tentunya didominasi oleh warga negara Belanda); golongan Timur Asing (misalnya orang-orang keturunan Arab dan/atau Tionghoa); dan golongan bumiputera (penduduk asli Hindia Belanda). Setiap golongan penduduk pun memiliki tatanan hukumnya masing-masing. Tatanan hukum yang berlaku bagi golongan Eropa di Hindia Belanda disamakan dengan tatanan hukum yang berlaku di negeri Belanda, sedangkan golongan Timur Asing dan bumiputera tunduk kepada hukum adat masing-masing.

Perbedaan yang fundamental dan struktural ini tentunya mengundang diskriminasi. Golongan Eropa dipandang sebagai golongan yang lebih unggul dan lebih berkelas. Stereotip kecantikan yang tumbuh saat itu tidak sebatas ‘cantik itu putih’, melainkan ‘cantik itu golongan Eropa yang berkulit putih’. 

Ketika koloni berubah dari Belanda ke Jepang, konsep cantik menjadi identik dengan kulit putih susu khas Jepang dan tubuh yang ramping. Jepang sendiri memiliki pepatah ‘iro no shiroi wa shichinan kakusu’ yang secara harafiah berarti ‘white skin covers the seven flaws’, alhasil meski seorang perempuan tidak memiliki tampilan fisik yang menarik, ia tetap dianggap cantik apabila ia berkulit putih susu.

Namun, stereotip kecantikan yang berkembang semasa penjajahan Belanda tidak hilang begitu saja. Nyatanya, setelah Indonesia merdeka, perempuan Indonesia yang dianggap ideal adalah perempuan yang terlihat kebarat-baratan alias berketurunan Belanda.

Tidak mudah bagi sebuah negara baru untuk membentuk nilai-nilai baru tanpa mengacu pada nilai-nilai yang dianut koloni lamanya. Alhasil, stereotip kecantikan yang muncul hampir sama seperti sebelumnya. Stereotip ‘cantik itu Indo’ dapat dikatakan cukup langgeng, mulai dari era Orde Lama hingga Orde Baru.

Ketika Indonesia memasuki era Reformasi yang memungkinkan arus informasi lebih luas dan terbuka, ‘cantik itu putih’ tidak lagi mengacu pada bangsa tertentu. Bangsa apa pun, selama berkulit putih, maka identik dengan cantik.


Sejarah diatas merupakan proses bagaimana stereotip terbentuk. Tapi jangan samapi membuat kamu jadi tidak percaya diri hanya karena kamu memiliki kulit yang lebih gelap.Cantik itu relatif, cantik tidak harus berkulit putih, tubuh langsing, dan rambut lurus. Cantik itu kebebasan yang relatif. 

Contoh kecil yang bisa kita temui. ada cewek gemuk, tapi cantik. Ada juga cewek kurus, tapi cantik. Meskipun mereka merasa insecure dengan tubuh seperti itu, tapi mereka sesungguhnya mempunyai esensi kecantikan yang relatif. 

Cantik tidak identik dengan putih. Cantik tidak harus putih. Apa pun warna kulit kamu, kamu cantik apa adanya.

Komentar

  1. Wahh terima kasih untuk edukasinya kaka

    BalasHapus
  2. Benar sekali. Cantik tidak harus putih. Nona NTT hitam² tapi manis

    BalasHapus
  3. Yapsss betul sekali tidak selamanya cantik itu harus putih...

    BalasHapus
  4. Cantik gk harus putih !!!!!!

    BalasHapus
  5. Tengkyuu edukasi nya

    BalasHapus

Posting Komentar